Pihak Sekolah Tangsel Putus Hubungan Permanen dengan Kepsek yang Diduga Lakukan Child Grooming

Pihak Sekolah Tangsel Putus Hubungan Permanen dengan Kepsek yang Diduga Lakukan Child Grooming – Yayasan yang menaungi SMK swasta di Pamulang, Tangerang Selatan, resmi memutuskan hubungan secara permanen dengan kepala sekolah berinisial AMA terkait dugaan kasus child grooming terhadap seorang siswi. Langkah tegas ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab institusi dalam menjaga nilai-nilai pendidikan, etika, serta integritas lingkungan sekolah.

Baca Juga: JPPI: 233 Kasus Kekerasan di Sekolah, Kepsek Child Grooming Memperpanjang Deretan Miris

Kronologi Pemutusan Hubungan

Yayasan Leo Sutrisno (Letris) yang menaungi SMK Letris 2 Pamulang mengambil langkah tegas setelah kasus dugaan child grooming viral di media sosial. Dalam unggahan akun Instagram resmi @letrispamulangofficial, pihak yayasan menyatakan bahwa AMA tidak lagi terafiliasi dengan LETRIS secara permanen.

Pernyataan tersebut dilengkapi dengan permohonan maaf kepada seluruh orang tua siswa, siswa-siswi, serta masyarakat luas atas ketidaknyamanan dan perhatian publik yang muncul dalam beberapa waktu terakhir. “Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh orang tua siswa, siswa-siswi, serta masyarakat luas atas ketidaknyamanan dan perhatian publik yang muncul dalam beberapa waktu terakhir,” demikian bunyi pernyataan yayasan.

Sebelum pemutusan hubungan permanen, yayasan telah menonaktifkan sementara kepala sekolah tersebut pada 15 Mei 2026 untuk menjaga transparansi selama proses pemeriksaan internal berlangsung. Tim khusus investigasi juga dibentuk untuk mendalami fakta-fakta yang ada.

Awal Mula Kasus Terungkap

Kasus ini bermula dari sebuah saluran WhatsApp tertutup milik siswi berinisial S yang bernama “Em Anu”. Melalui saluran tersebut, siswi tersebut sering membagikan cerita pribadi tentang kedekatannya dengan kepala sekolah. Saluran itu hanya diikuti oleh sejumlah orang terbatas dari kalangan temannya.

Situasi berubah drastis ketika tangkapan layar, foto, dan video kedekatan keduanya dari saluran “Em Anu” tersebar melalui akun saluran WhatsApp lain bernama “spill” pada 13 Mei 2026. Akun saluran “spill” dibuat terbuka untuk umum sehingga banyak orang yang mengaksesnya. Konten tersebut kemudian menyebar luas ke berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, Threads, hingga X, memicu sorotan publik yang besar.

Fakta Komunikasi Kepsek dengan Siswi

Menurut keterangan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Letris 2 Pamulang, Firdaus Shaugie, komunikasi antara AMA dan siswi S bermula pada awal Maret 2026. Saat itu, orang tua S meminta kepala sekolah untuk memperhatikan anaknya yang tinggal di kos bersama kakaknya karena orang tuanya telah berpisah.

Sang ibu berada di luar kota, sementara ayah tidak intens berkomunikasi dengan siswi tersebut. Kondisi inilah yang diduga membuat siswi tersebut berada dalam kondisi rentan secara emosional dan sosial. Dari pertemuan itulah komunikasi keduanya mulai terjalin, berawal dari tempat curhat hingga berkembang menjadi interaksi yang dinilai terlalu intens.

Pihak sekolah sebenarnya telah membaca adanya potensi persoalan sejak awal. Wali kelas hingga jajaran struktural sekolah telah memberikan peringatan agar hubungan tetap profesional dan tidak melampaui batas etik seorang pendidik. Namun peringatan tersebut tampaknya tidak cukup menghentikan intensitas komunikasi di luar lingkungan sekolah.

Apa Itu Child Grooming?

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menjelaskan bahwa child grooming merupakan bentuk kekerasan berbasis gender yang menyasar anak, terutama perempuan, melalui relasi kuasa yang timpang, manipulasi emosional, dan normalisasi perilaku seksual.

Pola child grooming umumnya muncul melalui beberapa strategi pelaku, antara lain:

  • Memosisikan diri sebagai teman dekat dan pendengar yang baik

  • Memberikan hadiah serta validasi berlebihan kepada korban

  • Melakukan normalisasi seksual secara bertahap

  • Meminta relasi dirahasiakan untuk mengisolasi anak dari lingkungan pendukung

  • Memanipulasi rasa bersalah dan takut korban

  • Berujung pada ancaman dan pemerasan seksual agar korban terus menuruti kehendak pelaku

Dalam kasus ini, kepala sekolah disebut membuat pola pendekatan kepada siswi yang kurang mendapat perhatian dari ayah atau fatherless, dan peristiwa itu disebut sudah terjadi berkali-kali.

Laporan Siswa Mulai Bermunculan

Pasca-kasus ini viral, sejumlah siswa dan alumni SMK Letris 2 Pamulang mulai melaporkan kelakuan yang diduga dilakukan mantan kepala sekolah mereka. Pihak sekolah membuka forum yang difasilitasi langsung oleh para guru untuk menampung aduan siswa.

Salah satu aduan yang muncul adalah pengakuan seorang siswi yang pernah menerima pesan langsung dari mantan kepala sekolah pada tahun 2024, di mana pesan tersebut berisi ajakan untuk bercerita secara pribadi kepada mantan kepala sekolah, baik di ruangan maupun di rumahnya. Menurut keterangan, pesan pertama dikirim langsung oleh mantan kepala sekolah.

Selain keluhan terkait perilaku mantan kepala sekolah, forum itu juga memunculkan dugaan adanya perilaku serupa yang diduga dilakukan oleh guru lain. Pihak sekolah berjanji akan melakukan evaluasi terhadap pola interaksi antara guru dan siswa setelah kasus tersebut mencuat, serta membentuk tim khusus untuk pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan sekolah.

“Kita sama pihak yayasan tadi sepakat deal ya untuk ke depannya kita akan evaluasi banget nih, SOP-nya kita akan perbaiki lagi untuk bagaimana kedekatan siswa dengan guru dan sebagainya,” kata Firdaus.

Penyelidikan Polisi

Polres Tangerang Selatan mulai melakukan penyelidikan berdasarkan hasil patroli siber setelah kasus ini viral. Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan, AKP Wira Graha Setiawan, mengatakan AMA telah datang ke Polres untuk mengkonsultasikan pemberitaan yang viral, dan Unit PPA langsung mengambil keterangan yang bersangkutan hingga sekitar pukul 23.00 WIB.

Namun, hingga saat ini korban belum membuat laporan polisi resmi. Polisi menegaskan tidak melakukan mediasi apapun terkait perkara ini dan masih dalam tahap penyelidikan untuk mencari fakta dan kebenaran yang terjadi.

“Iya, kita lagi lidik. Dari hasil patroli siber kemarin dapat info tersebut, hari ini kita mulai lakukan penyelidikan,” ujar Wira.

Kesimpulan

Kasus dugaan child grooming yang menimpa SMK Letris 2 Pamulang, Tangerang Selatan, menjadi pengingat pahit akan pentingnya pengawasan dalam relasi pendidik dan peserta didik. Pihak yayasan telah mengambil langkah tegas dengan memutus hubungan permanen terhadap kepala sekolah terkait serta menyampaikan permohonan maaf kepada publik. Polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, sementara sekolah berencana mengevaluasi SOP untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Kasus ini juga menunjukkan bahwa penting bagi institusi pendidikan untuk memiliki mekanisme pelaporan yang aman bagi siswa, sehingga korban atau saksi dapat melaporkan perilaku menyimpang tanpa takut akan intimidasi.

Tinggalkan komentar