Apakah Sekolah Rakyat Bisa Atasi Masalah Pendidikan Indonesia? -Pendidikan Indonesia menghadapi banyak tantangan. Akses belum merata di seluruh daerah. Kualitas pembelajaran masih tertinggal dari negara tetangga. Angka putus sekolah juga masih tinggi di berbagai wilayah. Pemerintah pun meluncurkan Program Sekolah Rakyat sebagai salah satu solusi. Namun, apakah program ini benar-benar bisa mengatasi masalah pendidikan nasional?
Baca Juga: Apakah Sekolah Rakyat Bisa Atasi Masalah Pendidikan Indonesia?
Masalah Utama Pendidikan Indonesia
Sebelum menilai efektivitas Sekolah Rakyat, kita perlu memahami akar masalahnya terlebih dahulu.
Akses dan Kesenjangan
Angka Partisipasi Kasar (APK) memang terus membaik. Namun, kesenjangan masih terlihat jelas antara kota dan desa. Akses ke jenjang pendidikan menengah juga masih terbatas di banyak daerah.
Krisis Mutu Pembelajaran
Laporan PISA 2022 menunjukkan skor Indonesia masih di bawah rata-rata OECD. Kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa tergolong rendah. Fenomena learning poverty pun masih tinggi. Banyak anak tidak bisa membaca dan memahami teks sederhana di usia dini.
Putus Sekolah
Berdasarkan data Kemendikdasmen, sekitar 4 juta anak Indonesia tidak bersekolah. Faktor ekonomi menjadi penyebab utama. Biaya transportasi, seragam, dan alat tulis masih memberatkan keluarga prasejahtera.
Apa Itu Sekolah Rakyat?
Presiden Prabowo Subianto meluncurkan program ini sebagai prioritas nasional. Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah pada umumnya.
Target Sasaran yang Presisi
Program ini khusus menyasar anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Sekolah menjemput langsung calon siswa dari rumah ke rumah. Dengan cara ini, bantuan tepat sasaran dan tidak ada anak yang terlewat.
Konsep Boarding School
Sekolah Rakyat menggunakan sistem asrama penuh. Negara menyediakan sandang, pangan, dan papan secara gratis. Para siswa mendapat delapan pasang seragam, laptop, makan, minum, dan tempat tinggal. Mereka juga mendapat fasilitas kesehatan selama menempuh pendidikan.
Sistem Non-Selektif
Tidak ada tes akademik dalam penerimaan siswa. Yang dibutuhkan hanyalah verifikasi status ekonomi keluarga. Pendekatan ini berbeda dengan sekolah unggulan yang sangat selektif.
Dampak dan Capaian Program
Meskipun masih dalam tahap awal, program ini menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Jangkauan yang Luas
Hingga April 2026, telah berdiri 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi. Program ini menjangkau lebih dari 15.800 siswa dari keluarga prasejahtera.
Pembangunan Infrastruktur
Sebanyak 93 gedung permanen sedang dalam proses pembangunan. Targetnya, sekitar 69 persen dapat digunakan pada Juli 2026 mendatang.
Perubahan Nyata pada Siswa
Wakil Kepala BGN, Dadan Hindayana, melaporkan adanya peningkatan berat badan siswa. Kasus anemia juga menurun drastis. Rasa percaya diri dan kedisiplinan siswa pun tumbuh dengan pesat.
Apakah Sekolah Rakyat Bisa Menjadi Solusi?
Jawabannya: bisa, tetapi tidak sendiri. Sekolah Rakyat efektif untuk memutus rantai kemiskinan struktural. Program ini menjawab masalah akses bagi anak-anak yang paling tidak mampu.
Namun, untuk menyelesaikan seluruh masalah pendidikan, diperlukan kerja sama dari berbagai pihak.
Pemerataan Infrastruktur
Sekolah di daerah terpencil masih kekurangan guru dan fasilitas. Angka putus sekolah di wilayah 3T juga masih mengkhawatirkan. Pembangunan infrastruktur fisik harus terus dikebut.
Peningkatan Mutu Guru
Kualitas guru masih sangat timpang antara satu daerah dengan daerah lain. Pelatihan dan sertifikasi guru perlu diperluas jangkauannya.
Reformasi Kurikulum
Kurikulum harus lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis dan kolaborasi perlu ditekankan.
Kesimpulan
Sekolah Rakyat adalah langkah maju yang sangat signifikan. Program ini berhasil menjawab masalah akses bagi anak-anak dari keluarga paling miskin. Namun, pemerintah tidak bisa berhenti di sini.
Masih diperlukan upaya kolektif dari semua pemangku kepentingan. Reformasi kurikulum, peningkatan kualitas guru, dan pemerataan infrastruktur harus terus berjalan. Dengan sinergi yang kuat, pendidikan Indonesia yang lebih baik bukanlah mimpi di siang bolong.
