Ketua IKAPI Buka Suara: Gen Z Ternyata Bukan Generasi Malas Membaca – Selama ini, Generasi Z kerap mendapat stigma sebagai kelompok yang malas membaca. Mereka dianggap lebih sibuk scroll media sosial daripada membuka buku. Namun, Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Arys Hilman Nugraha justru membantah anggapan tersebut. Menurutnya, stigma itu tidak sepenuhnya benar dan perlu diluruskan.
Baca Juga: Fakta-fakta SMAN 3 & 5 Bandung Jadi Sekolah Maung
Fakta di Lapangan: Gen Z Justru Rajin ke Perpustakaan
Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa Gen Z memiliki minat baca yang cukup tinggi. Berdasarkan survei Jakpat pada semester kedua 2025, persentase aktivitas membaca Gen Z mencapai 26 persen, melampaui Milenial yang hanya 20 persen dan Gen X sebesar 18 persen .
Fakta ini diperkuat oleh data Perpustakaan Jakarta Cikini. Sejak jam operasional diperpanjang hingga malam, sekitar 54,39 persen dari total pengunjung adalah Gen Z. Pada akhir pekan, jumlah pengunjung mencapai 3.200 orang per hari . Angka ini menunjukkan bahwa anak muda tetap memiliki ketertarikan terhadap buku, meskipun cara mereka mengaksesnya mungkin berbeda dengan generasi sebelumnya.
Selain itu, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) juga mencatat bahwa Gen Z dan Generasi Alpha mendominasi pengguna aplikasi iPusnas dengan persentase mencapai 65,4 persen . Hal ini menunjukkan bahwa Gen Z tidak anti-buku, mereka hanya lebih suka membaca dalam format digital yang praktis dan mudah diakses.
Ketua IKAPI: Minat Baca Ada, Akses dan Kebiasaan yang Kurang
Menanggapi fenomena ini, Ketua IKAPI Arys Hilman Nugraha menegaskan bahwa masalah utama literasi di Indonesia bukan pada rendahnya minat baca, melainkan pada akses yang belum merata dan kebiasaan membaca yang belum terbangun secara konsisten.
“Minat baca masyarakat yang masih rendah menjadi pekerjaan rumah utama. Menurutnya, minat baca belum berkembang menjadi kebiasaan, sehingga akses, distribusi, dan keberadaan buku berkualitas belum berdampak optimal pada pembaca,” .
Dalam kesempatan lain, Arys juga menyoroti pentingnya keteladanan dari para pemimpin untuk membangun budaya membaca. Menurutnya, kebiasaan Presiden Prabowo Subianto yang sering terlihat mengunjungi toko buku dan membagikan buku-buku yang dibacanya di media sosial dapat menjadi contoh yang baik bagi masyarakat .
“Melalui Hari Buku Sedunia ini kita berharap bisa menjadi inspirasi juga untuk Indonesia, bahwa buku memang memerlukan perhatian, dan perhatian yang terpenting memang pada leadership (kepemimpinan), bisa dari seorang presiden, gubernur, wali kota, atau kepala sekolah, karena begitu para pemimpin ini menunjukkan kecintaan kepada buku, rakyat itu akan ikut,” ujar Arys .
Ia juga menegaskan bahwa kemampuan literasi bukan sekadar bisa membaca, melainkan bagaimana memahami sebuah bacaan secara kritis. Target Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai tanpa dukungan kemampuan literasi yang kuat .
Faktor Pendorong: Tren BookTok dan Bookstagram
Salah satu faktor unik yang mendorong minat baca Gen Z adalah fenomena BookTok di TikTok dan Bookstagram di Instagram. Sub-komunitas ini berhasil mengemas kegiatan membaca sebagai aktivitas yang “keren”, eksklusif, dan interaktif .
Konten-konten rekomendasi buku yang viral di media sosial menciptakan efek Fear of Missing Out (FOMO) yang positif. Buku-buku yang direkomendasikan menjadi incaran, dan genre yang paling diminati adalah novel, terutama fiksi remaja dan pengembangan diri .
Head of Research Jakpat, Aska Primardi, menilai fenomena ini terjadi karena adanya kejenuhan terhadap konten digital yang bersifat instan. Gen Z mulai mencari alternatif kegiatan yang lebih berkualitas untuk mengisi waktu luang mereka .
