Kronologi Lengkap Siswa Kelas 1 SD di Lombok Timur Meninggal Usai Tiru Gerakan “Freestyle” Viral – Seorang siswa kelas 1 Sekolah Dasar di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menghembuskan napas terakhir pada Minggu, 3 Mei 2026. Korban berinisial HIW (8) mengalami cedera fatal di bagian leher dan kepala setelah diduga meniru gerakan “freestyle” yang viral di media sosial dan game online . Peristiwa tragis ini menjadi peringatan serius bagi seluruh orang tua dan pendidik tentang bahaya meniru konten digital tanpa pengawasan.
Baca Juga: Prabowo Tak Persoalkan Anak Orang Kaya Tolak MBG: Yang Tidak Perlu Tidak Dipaksa
Kronologi: Awalnya Hanya Sakit Kepala
Kapolsubsektor Lenek, Ipda Alam Prima Yogi, mengonfirmasi bahwa insiden terjadi di rumah korban di Desa Lenek Baru, Kecamatan Lenek, Lombok Timur . Korban melakukan aksi freestyle, sebuah gerakan berbahaya yang diduga terinspirasi dari emote dan gaya akrobatik dalam game populer Free Fire . Gerakan ini biasanya dilakukan dengan bertumpu pada kepala atau tangan sambil mengangkat kaki ke atas—sebuah manuver yang sangat berisiko bagi anak-anak.
Awalnya, keluarga korban tidak menyadari adanya cedera serius. Korban hanya mengeluh demam dan sakit kepala. Neneknya kemudian memberinya obat sakit kepala biasa, karena menganggap kondisinya hanya sakit ringan .
“Keluarga awalnya mengira hanya demam biasa, sehingga hanya diberi obat sakit kepala,” ujar Sakiatun Nisa, wali kelas korban .
Membedakan Sakit Biasa vs Cedera Serius
Dalam kasus ini, keluarga tidak langsung curiga ada yang salah karena trauma akibat benturan tidak selalu langsung menimbulkan gejala eksternal yang jelas. Cedera yang berdampak pada saraf motorik bisa membutuhkan waktu untuk menunjukkan gejalanya.
Beberapa hari setelah kejadian, kondisi korban mulai memburuk secara signifikan. Keluarga menyadari adanya perubahan drastis pada fungsi fisik korban.
“Menurut kakeknya, kondisinya seperti mati sebelah, sebagian tubuh tidak berfungsi gerak,” ungkap Sakiatun, menjelaskan gejala yang menyerupai stroke .
Proses Perawatan Medis: Dua Kali Operasi hingga Akhir Hayat
Keluarga kemudian membawa korban ke RSUD Selong. Karena kondisinya yang semakin kritis, ia dirujuk ke Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) NTB di Mataram. Di sana, korban sempat menjalani operasi pertama dan dirawat di ruang ICU .
“Ketika saya lihat biasa saja rupa wajahnya, cuma kepalanya saja yang dibalut perban, tangannya pakai infus,” ujar Sakiatun yang sempat menjenguk .
Setelah beberapa hari dirawat, korban diizinkan pulang selama dua hari. Namun, kondisi kesehatannya kembali menurun drastis. Ia kembali dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani rencana operasi kedua.
“Setelah dibawa pulang, sakit lagi kemudian dibawa ke rumah sakit lagi. Namun, nyawanya tak bisa diselamatkan saat menjalani rencana operasi kedua,” tambah Yogi . Korban meninggal dunia sebelum operasi kedua sempat dilaksanakan