Perjuangan Anak Gunung Kejar Ilmu di Sekolah ‘Atas Awan’

Perjuangan Anak Gunung Kejar Ilmu di Sekolah ‘Atas Awan’Kabupaten Bandung Barat – Langit di Kabupaten Bandung Barat (KBB) sedang cerah. Sorot matahari langsung menyentuh tubuh bocah-bocah yang berbaris rapi di depan kelas SD Negeri Giriasih, Desa Batulayang, Kecamatan Cililin, pada Selasa (12/5/2026). Sebagian lagi terlihat berlarian di lapangan olahraga sekolah—pemandangan yang lumrah ditemui di belahan daerah mana pun .

Baca Juga: Perjuangan Anak Gunung Kejar Ilmu di Sekolah ‘Atas Awan’

Namun, di balik keseharian yang tampak biasa ini, tersimpan perjuangan luar biasa. SDN Giriasih berdiri di atas gunung dengan akses jalan yang amat terjal dan berbatu. Sekolah yang berdiri pada tahun 1980-an ini menjadi satu-satunya SD negeri bagi warga dari beberapa kampung di atas gunung .

Menembus Hutan Demi Ilmu

Salah satu siswa yang gigih menuntut ilmu adalah Muhammad Al-Gibran, siswa kelas 3. Setiap pagi, ia harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit dengan berjalan kaki dari rumahnya menuju sekolah. “Saya berangkat jam 6 pagi, sampai sekolah itu jam 6.30 WIB,” kata Gibran .

Perjuangan Gibran tidak selalu mulus. Pada musim hujan, jalan tanah merah yang licin dan rawan longsor menjadi momok tersendiri. Pernah suatu ketika, hujan deras mengguyur sejak malam hingga pagi. Tak ada tanda-tanda bakal reda. Jalan pun semakin licin dan terjadi longsor kecil. Kondisi itu memaksa Gibran untuk bolos sekolah.

“Pernah, kalau hujan enggak reda jadinya enggak masuk sekolah. Sama gurunya juga enggak apa-apa. Kalau hujan jalannya licin,” ungkap Gibran .

Perjalanan yang Telah Membudaya

Kisah serupa juga dialami Azzahra Salsabila (12), siswa kelas 6. Saban pagi, ia dan teman-temannya menapaki jalan setapak menuju sekolah yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari puncak gunung. Agar tidak terlambat, ia harus berangkat paling lambat pukul 06.00 pagi. Perjalanan mereka melewati hutan-hutan kecil sebelum akhirnya bisa duduk di bangku kelas yang nyaman.

“Sudah biasa, tiap hari jalan ke sekolah. Sekitar 30 menit jalan kaki, soalnya enggak bisa naik motor. Bareng sama teman-teman jalan kaki ke sekolahnya,” ucap Azzahra .

Menariknya, tak ada keluhan sama sekali dari mulut mereka. Semua dilakukan atas dasar keikhlasan dan rasa tanggung jawab terhadap masa depan.

Kebijakan Khusus dari Para Guru

Perjalanan tak biasa yang ditempuh para siswa ini kemudian melahirkan ketentuan khusus dari pihak sekolah. Eli Sri Wahyuni, salah seorang guru di SDN Giriasih, menjelaskan bahwa ada pertimbangan tersendiri ketika kondisi anak-anak memang tidak memungkinkan untuk masuk sekolah.

“Kampung Gabus Hilir misalnya, akses jalannya cuma satu. Pernah karena tertutup longsor, orang tua murid gotong royong membersihkan dan memperbaiki akses,” kata Eli .

“Makanya, pihak sekolah tidak selalu memaksakan anak harus masuk, apalagi kalau cuaca ekstrem,” imbuhnya .

Harapan untuk Masa Depan

Eli Sri Wahyuni adalah alumni SDN Giriasih. Kini, ia memilih kembali dan mengabdi di sekolah yang sama. Meski harus berjuang ekstra, semangat para guru dan siswa tidak pernah padam.

“Kebetulan saya alumni SD ini juga, sekarang mengabdi di sini. Mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah buat kami di sini,” tuturnya penuh harap .

SDN Giriasih memang layak disebut sebagai sekolah “di atas awan”. Namun, di tengah keterbatasan akses dan tantangan alam, semangat belajar anak-anak gunung ini tetap membumbung tinggi—melebihi ketinggian gunung yang mereka daki setiap hari.

Tinggalkan komentar

Exit mobile version